Kenapa Dibawah Rel Kereta Api Diletakkan Kerikil…???

Naik kereta api., tuut tuuut tuuut., siapa hendak turut.,

Ke bandung., surabaya., bolehlah naik dengan percuma.,

Ayo kawanku lekas naik., keretaku tak berhenti lamaa….,

Masih ingat lirik lagu itu? Yaah., salah satu lagu yang diajarkan saat masih TK dulu., kalau sekarang siih anak TK aja udah tau n ngerti lagu boyband girlband hadeeee -_- .

Dulu she waktu aku TK masih jamannya kereta api, tapi skarang sih uda jamannya kereta listrik heheh 😀 , lha terus ngapain aku pake judul kereta api? Ya soalnya orang kalo ngomong kereta, kebanyakan kata yang langsung terlintas di benak mereka adalah “kereta api” 😀 .

So, masuk ke inti, kenapa ya pakai kerikil? Mari bahas perlahan.

Kereta api (listrik) rata2 melaju diatas 100 KM/Jam, dengan kecepatan sekencang itu, pasti penumpang didalamnya akan merasakan getaran bukan? “kan di kereta udah ada pegasnya?” , iya benar, tapi ternyata pegas ini kurang mumpuni buat nahan goncangannya, jadi dipakailah kerikil dibawah bantalan rel keretanya.

Itu adalah tujuan utamanya, namun ternyata ada efek lain yang menguntungkan dibalik penggunaan kerikil ini looh., yaitu, rumah2 yang berada di sekitar bantaran rel kereta api akan berkurang getarannya, ini karena guncangan yang diakibatkan laju kereta akan “diserap” oleh bantalan kerikil2 ini, jadi begitu getaran merambat kearah rumah terdekat, getarannya tidak akan sebesar kalau tidak dipasangi kerikil dibawah rel-nya.

Dan juga, penggunaan kerikil2 ini juga bertujuan untuk mengurangi resiko kerusakan apabila terjadi kecelakaan kereta (semoga tidak pernah), ini seperti yang aku bilang di paragraf atas barusan yaitu “menyerap” . Saat terjadi kecelakaan kereta, kereta akan keluar dari jalurnya, dan mungkin terguling, nah dengan adanya kerikil ini, kereta yang terguling ini ditahan oleh kerikil yang berfungsi seperti spons besar, kerusakan-pun dapat diminimalisir ketimbang tanpa menggunakan kerikil.

Bayangkan kita kalau naik sepeda kemudian terjatuh di kerikil, lebih parah mana jatuh di kerikil atau jatuh di tanah langsung? Tentu lebih parah jika jatuh di tanah bukan? Yap, seperti itulah analoginya 🙂 .

Seperti itulah ceritanya., smoga bermanfaat bagi semuanya 🙂  ., ada yang mau berbagi komentar?

Comments

  1. By Jarot

    Reply

    • Reply

  2. Reply

    • Reply

  3. Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *